Akhirnya berani ngomongin soal kehilangan

Beberapa bulan yang lalu, aku nonton sebuah netflix series yang berjudul “Never Have I Ever “. Sebuah TV Series yang menceritakan kisah remaja perempuan Indian American, yang lahir dan tumbuh besar di Amerika. Selain cerita yang fokus di lingkup pertemanan dan percintaan masa SMA, ada juga hal yang membuat series ini sangat berbeda dengan series lain. Yaitu mengenai: 

Dealing with Grief

Papa dari sang karakter utama, Devi, meninggal karena serangan jantung saat menonton Devi perform di sekolahnya. Setelah kejadian itu, Devi menjalani hari harinya layaknya tidak pernah terjadi apa apa. Sebenernya, banyak di luar sana film atau series yang ceritanya mengenai kehilangan atau kesedihan. Tetapi entah mengapa, aku sangat amat bisa relate dengan series ini. Salah satu quotes yang paling mengena untukku:

Screen Shot 2020-06-14 at 20.06.52

Series ini menunjukan bahwa setiap orang memilki cara yang berbeda-beda dalam menghadapi kesedihan karena di tinggal oleh orang terpenting di hidupnya. Tetapi kenapa aku sangat amat relate dengan Devi ? Karena cara aku dealing with grief sangat mirip dengan apa yang Devi lakukan.

Papa aku meninggal tahun lalu, saat aku masih kuliah di China. Papa meninggal karena kanker yang sudah ada di tubuhnya selama kurang lebih 1 tahun. Jujur aku tipe orang yang suka in denial. Saat pertama kali papa dan mama cerita ke aku dan adikku mengenai ini, respon aku adalah ketawa.

iya, aku ketawa

Aku juga bingung kenapa aku malah ketawa. Aku juga sempet merasa kesal dengan diri sendiri. Tapi yaa aku beneran ketawa. Sampai papa aku bilang ” lah kok malah ketawa sih ” lalu papa malah ikutan senyum senyum juga. Ternyata beberapa bulan sebelum mereka memberi tahu kabar ini, papa sudah melewati fase operasi dan kalau gak salah, beberapa kemo therapy. Tapi, papa mama tidak memberitahu kami , karena saat itu kami posisinya sedang berada di Wuhan dan sepertinya mereka tak ingin kami khawatir.

Setelah aku mendengar kabar itu, aku langsung masuk ke kamar dan diam. Iya, literally cuman diam, gak ngapa ngapain. Sampai akhirnya, aku ngasih tau dua orang, satu sahabat aku dan satunya adalah seseorang yang, let say, saat itu dia cukup penting di hidup aku. Sharing this information with them are the best decision that i ever made. Seriusan deh, mungkin aku tidak akan pernah tau rasanya gimana pentingnya cerita ke orang yang tepat, sampai momen kayak gini terjadi di hidupku. 

Setelah kejadian itu, semua seperti biasa biasa aja. Keluargaku menjalani kehidupan layaknya tidak ada apa apa. Papa masih ke kantor, aku dan adikku yang menikmati liburan kami di Indonesia, dan mama yang masih sering ngajakin kami jalan jalan. Kami se keluarga juga masih liburan ke luar kota. Sampai akhirnya aku menyadari banyak hal yang berubah di keluarga kami. Dari yang sibuk bolak balik nemenin papa kontrol ke dokter, rumah sakit yang jadi rumah kedua bagi kami semua, hingga bingung harus nyiapain makanan apa yang buat papa gak mual dan bisa makan. Walaupun semua itu terjadi, aku masih positive thinking. ” Papa gak kenapa kenapa kok, papa cuman sakit biasa “. Entah aku yang selalu positive thinking, atau aku yang in denial. 

Adikku sudah balik ke Wuhan awal bulan September 2018. Aku baru kembali ke Wuhan 2 bulan setelahnya karena aku harus menyelesaikan masa internship. Sekarang aku baru sadar, bahwa selama dua bulan ini, aku bener bener mendapatkan quality time aku bersama papa. Walaupun saat itu aku gak sadar, bahwa itulah momen terakhir aku bareng papa. Pertemuan terakhir aku sama papa, adalah beberapa bulan sebelum beliau meninggalkan kami semua.

Setelah Kembali ke Wuhan, aku dan adikku kembali menjadi mahasiswa. Main sama temen, belajar, liburan, galau karena gebetan, dan masih banyak lagi. Aku juga sudah mulai fokus menulis skripsi. Hingga saat winter holiday, sekitar Januari 2019, aku memutuskan untuk tidak pulang ke Indonesia agar aku bisa fokus menulis skripsi. Sedangkan adikku, memutuskan untuk balik Indonesia biar bisa liburan. Another thing about dealing with grief, adalah penyesalan yang tiada habisnya. Kalau aku tau papa akan meninggal beberapa bulan setelah itu, aku pasti ikut adikku ke Indonesia. Aku pasti hanya akan fokus sama papa dan melupakan yang lain. Kalau tau papa akan meninggal…

See! Penyesalan yang gak ada habisnya.

Padahal kalau aku lihat dari sisi lain, ada banyak hal positive di baliknya. Speerti adikku yang bisa merasakan momen momen terakhir bersamanya. Papa bisa fokus sama adikku saja. Aku yang bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu . Dan aku yakin masih banyak hal positive lainnya yang bisa aku ambil dari keputusan ini.

Beberapa hari sebelum papa meninggal, mama memang sudah memberikan kami heads up, bahwa ada kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. jujur, lagi lagi, aku yang in denial , masih bisa berfikir ” papa cuman opname biasa, besok juga balik “. Padahal saat itu, papa sudah di ICU dan kritis. Hingga akhirnya,

14 Mei 2019, papa meninggal. 

Aku inget banget, posisinya aku abis sahur saat aku mendengar kabar ini. Adikku langsung ke kamar dormku dan kita pelukan. Kita cuman bisa saling menguatkan, terlebih posisi kami yang tidak bisa balik ke Indonesia. Deadline skripsi aku yang tinggal besok dan adikku yang sedang menjalan masa masa ujian semester. Kami sepakat untuk tidak membertitahu siapa pun dulu mengenai ini. Tetapi ternyata, adikku memberi tahu teman sekampus kami ( dulu sih temen, sekarang mah udah jadi pacar 🙂 ) yang akhirnya semua orang di Wuhan jadi tahu. Aku pribadi hanya bilang ke dua orang saat subuh itu. Ke Sahabat aku dan satu lagi hmmmm orang yang sedang dekat denganku. Jujur, walaupun aku hanya cerita dengan mereka, mereka lah yang bisa menguatkan aku saat itu.

Aku sangat amat susah untuk menangis. Seberapa patah hati nya aku, seberepa sedihnya sebuah film, aku hampir tidak pernah menangis. Sampai akhirnya, aku menangis saat mendengar kabar papa meninggal. Kalian tau gak sih, nangis yang sampe sesek terus capek gitu karena kelamaan nangis ? Nah itu nangisnya aku. Setelah momen ini, aku menyadari satu hal, kalau aku menjadi sosok yang jadi mudah nangis. Sumpah deh, kayak jadinya sekarang apa apa nangis gitu.

Anyway, pada hari itu, aku sangat amat bersyukur punya teman teman yang baik banget. saat semua orang udah tahu kondisi aku, mereka berusaha ada untuk aku. Walaupun akhirnya aku memutuskan untuk stay di kamar sampe magrib. Setelah magrib, temen temen kampus aku menyiapkan buka puasa, dan lalu kita tahlilan. Sungguh aku bersyukur, kenal sama mereka semua.

Besoknya dan hari hari berikutnya, aku merasa baik baik saja. Sedih ? iya, tapi yaa yaudah. aku baik baik saja. setiap ada yang nanya, aku gimana, aku pasti selalu menjawab ” gakpapa kok “, bahkan aku lebih memilih untuk ngomgin hal lain daripada ngomgin soal papa yang sudah meninggal. Di sini lah momen mengapa aku sangat relate dengan Devi. Kami sama sama merasa kalau, hidup kami akan baik baik saja. Ada perubahan, tapi cuman sedikit dan tidak signifikan.

Tetapi sekarang, satu tahun setelah kejadian, aku sadar akan satu hal:

Here is the thing about losing someone. The day you lost someone seems so hard for you. Tetapi sebenarnya, hari hari setelah kita kehilangan seseorang adalah momen yang paling sulit.

Seriusan! awalnya aku baik baik saja bukam ? Bahkan aku sempet optimis, kalau aku akan seneng seneng saja walaupun papa sudah tidak ada lagi di dunia ini. Walaupun papa sudah gak ada di rumah kayak dulu lagi.

Nyatanya , saat semuanya sudah kembali normal, saat semuanya mengira kamu udah baik baik saja, adalah waktu waktu yang paling berat. Saat dimana kita lagi fokus ngerjain sesuatu, lalu keingat akan sosoknya and you wish he is here with you. Atau momen seperti , tiba tiba keinget papa, terus nangis sesengukan, atau kangen pingin ngobrol tapi udah gak bisa atau keinginan untuk cerita ke orang, tapi ngerasa gak enak takut mereka bosen. dan masih banyak lagi hal hal yang bikin kehilangan seseorang ternyata sulit.

Intinya, kehilangan seseorang dan merasa sedih, itu wajar. Wajar banget . Cara orang melewati masa masa berat seperti ini, memang beda beda. Tetapi aku merasa bahwa, talking about it doesnt make you week or judged or anything like that. Talking about it really helps you dealing with grief. I know i do.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s