Featured

Akhirnya berani ngomongin soal kehilangan

Beberapa bulan yang lalu, aku nonton sebuah netflix series yang berjudul “Never Have I Ever “. Sebuah TV Series yang menceritakan kisah remaja perempuan Indian American, yang lahir dan tumbuh besar di Amerika. Selain cerita yang fokus di lingkup pertemanan dan percintaan masa SMA, ada juga hal yang membuat series ini sangat berbeda dengan series lain. Yaitu mengenai: 

Dealing with Grief

Papa dari sang karakter utama, Devi, meninggal karena serangan jantung saat menonton Devi perform di sekolahnya. Setelah kejadian itu, Devi menjalani hari harinya layaknya tidak pernah terjadi apa apa. Sebenernya, banyak di luar sana film atau series yang ceritanya mengenai kehilangan atau kesedihan. Tetapi entah mengapa, aku sangat amat bisa relate dengan series ini. Salah satu quotes yang paling mengena untukku:

Screen Shot 2020-06-14 at 20.06.52

Series ini menunjukan bahwa setiap orang memilki cara yang berbeda-beda dalam menghadapi kesedihan karena di tinggal oleh orang terpenting di hidupnya. Tetapi kenapa aku sangat amat relate dengan Devi ? Karena cara aku dealing with grief sangat mirip dengan apa yang Devi lakukan.

Papa aku meninggal tahun lalu, saat aku masih kuliah di China. Papa meninggal karena kanker yang sudah ada di tubuhnya selama kurang lebih 1 tahun. Jujur aku tipe orang yang suka in denial. Saat pertama kali papa dan mama cerita ke aku dan adikku mengenai ini, respon aku adalah ketawa.

iya, aku ketawa

Aku juga bingung kenapa aku malah ketawa. Aku juga sempet merasa kesal dengan diri sendiri. Tapi yaa aku beneran ketawa. Sampai papa aku bilang ” lah kok malah ketawa sih ” lalu papa malah ikutan senyum senyum juga. Ternyata beberapa bulan sebelum mereka memberi tahu kabar ini, papa sudah melewati fase operasi dan kalau gak salah, beberapa kemo therapy. Tapi, papa mama tidak memberitahu kami , karena saat itu kami posisinya sedang berada di Wuhan dan sepertinya mereka tak ingin kami khawatir.

Setelah aku mendengar kabar itu, aku langsung masuk ke kamar dan diam. Iya, literally cuman diam, gak ngapa ngapain. Sampai akhirnya, aku ngasih tau dua orang, satu sahabat aku dan satunya adalah seseorang yang, let say, saat itu dia cukup penting di hidup aku. Sharing this information with them are the best decision that i ever made. Seriusan deh, mungkin aku tidak akan pernah tau rasanya gimana pentingnya cerita ke orang yang tepat, sampai momen kayak gini terjadi di hidupku. 

Setelah kejadian itu, semua seperti biasa biasa aja. Keluargaku menjalani kehidupan layaknya tidak ada apa apa. Papa masih ke kantor, aku dan adikku yang menikmati liburan kami di Indonesia, dan mama yang masih sering ngajakin kami jalan jalan. Kami se keluarga juga masih liburan ke luar kota. Sampai akhirnya aku menyadari banyak hal yang berubah di keluarga kami. Dari yang sibuk bolak balik nemenin papa kontrol ke dokter, rumah sakit yang jadi rumah kedua bagi kami semua, hingga bingung harus nyiapain makanan apa yang buat papa gak mual dan bisa makan. Walaupun semua itu terjadi, aku masih positive thinking. ” Papa gak kenapa kenapa kok, papa cuman sakit biasa “. Entah aku yang selalu positive thinking, atau aku yang in denial. 

Adikku sudah balik ke Wuhan awal bulan September 2018. Aku baru kembali ke Wuhan 2 bulan setelahnya karena aku harus menyelesaikan masa internship. Sekarang aku baru sadar, bahwa selama dua bulan ini, aku bener bener mendapatkan quality time aku bersama papa. Walaupun saat itu aku gak sadar, bahwa itulah momen terakhir aku bareng papa. Pertemuan terakhir aku sama papa, adalah beberapa bulan sebelum beliau meninggalkan kami semua.

Setelah Kembali ke Wuhan, aku dan adikku kembali menjadi mahasiswa. Main sama temen, belajar, liburan, galau karena gebetan, dan masih banyak lagi. Aku juga sudah mulai fokus menulis skripsi. Hingga saat winter holiday, sekitar Januari 2019, aku memutuskan untuk tidak pulang ke Indonesia agar aku bisa fokus menulis skripsi. Sedangkan adikku, memutuskan untuk balik Indonesia biar bisa liburan. Another thing about dealing with grief, adalah penyesalan yang tiada habisnya. Kalau aku tau papa akan meninggal beberapa bulan setelah itu, aku pasti ikut adikku ke Indonesia. Aku pasti hanya akan fokus sama papa dan melupakan yang lain. Kalau tau papa akan meninggal…

See! Penyesalan yang gak ada habisnya.

Padahal kalau aku lihat dari sisi lain, ada banyak hal positive di baliknya. Speerti adikku yang bisa merasakan momen momen terakhir bersamanya. Papa bisa fokus sama adikku saja. Aku yang bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu . Dan aku yakin masih banyak hal positive lainnya yang bisa aku ambil dari keputusan ini.

Beberapa hari sebelum papa meninggal, mama memang sudah memberikan kami heads up, bahwa ada kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. jujur, lagi lagi, aku yang in denial , masih bisa berfikir ” papa cuman opname biasa, besok juga balik “. Padahal saat itu, papa sudah di ICU dan kritis. Hingga akhirnya,

14 Mei 2019, papa meninggal. 

Aku inget banget, posisinya aku abis sahur saat aku mendengar kabar ini. Adikku langsung ke kamar dormku dan kita pelukan. Kita cuman bisa saling menguatkan, terlebih posisi kami yang tidak bisa balik ke Indonesia. Deadline skripsi aku yang tinggal besok dan adikku yang sedang menjalan masa masa ujian semester. Kami sepakat untuk tidak membertitahu siapa pun dulu mengenai ini. Tetapi ternyata, adikku memberi tahu teman sekampus kami ( dulu sih temen, sekarang mah udah jadi pacar 🙂 ) yang akhirnya semua orang di Wuhan jadi tahu. Aku pribadi hanya bilang ke dua orang saat subuh itu. Ke Sahabat aku dan satu lagi hmmmm orang yang sedang dekat denganku. Jujur, walaupun aku hanya cerita dengan mereka, mereka lah yang bisa menguatkan aku saat itu.

Aku sangat amat susah untuk menangis. Seberapa patah hati nya aku, seberepa sedihnya sebuah film, aku hampir tidak pernah menangis. Sampai akhirnya, aku menangis saat mendengar kabar papa meninggal. Kalian tau gak sih, nangis yang sampe sesek terus capek gitu karena kelamaan nangis ? Nah itu nangisnya aku. Setelah momen ini, aku menyadari satu hal, kalau aku menjadi sosok yang jadi mudah nangis. Sumpah deh, kayak jadinya sekarang apa apa nangis gitu.

Anyway, pada hari itu, aku sangat amat bersyukur punya teman teman yang baik banget. saat semua orang udah tahu kondisi aku, mereka berusaha ada untuk aku. Walaupun akhirnya aku memutuskan untuk stay di kamar sampe magrib. Setelah magrib, temen temen kampus aku menyiapkan buka puasa, dan lalu kita tahlilan. Sungguh aku bersyukur, kenal sama mereka semua.

Besoknya dan hari hari berikutnya, aku merasa baik baik saja. Sedih ? iya, tapi yaa yaudah. aku baik baik saja. setiap ada yang nanya, aku gimana, aku pasti selalu menjawab ” gakpapa kok “, bahkan aku lebih memilih untuk ngomgin hal lain daripada ngomgin soal papa yang sudah meninggal. Di sini lah momen mengapa aku sangat relate dengan Devi. Kami sama sama merasa kalau, hidup kami akan baik baik saja. Ada perubahan, tapi cuman sedikit dan tidak signifikan.

Tetapi sekarang, satu tahun setelah kejadian, aku sadar akan satu hal:

Here is the thing about losing someone. The day you lost someone seems so hard for you. Tetapi sebenarnya, hari hari setelah kita kehilangan seseorang adalah momen yang paling sulit.

Seriusan! awalnya aku baik baik saja bukam ? Bahkan aku sempet optimis, kalau aku akan seneng seneng saja walaupun papa sudah tidak ada lagi di dunia ini. Walaupun papa sudah gak ada di rumah kayak dulu lagi.

Nyatanya , saat semuanya sudah kembali normal, saat semuanya mengira kamu udah baik baik saja, adalah waktu waktu yang paling berat. Saat dimana kita lagi fokus ngerjain sesuatu, lalu keingat akan sosoknya and you wish he is here with you. Atau momen seperti , tiba tiba keinget papa, terus nangis sesengukan, atau kangen pingin ngobrol tapi udah gak bisa atau keinginan untuk cerita ke orang, tapi ngerasa gak enak takut mereka bosen. dan masih banyak lagi hal hal yang bikin kehilangan seseorang ternyata sulit.

Intinya, kehilangan seseorang dan merasa sedih, itu wajar. Wajar banget . Cara orang melewati masa masa berat seperti ini, memang beda beda. Tetapi aku merasa bahwa, talking about it doesnt make you week or judged or anything like that. Talking about it really helps you dealing with grief. I know i do.

Featured

Umur 24; Apa Saja Pencapaianmu Selama Ini ?

Hi! Enggak terasa udah hampir setahun semenjak gw lulus S1 dan kembali ke tanah air. Setelah lulus, gw ngerasa enggak akan ada something interesting going on in my life aymore. Wajar banget enggak sih ngerasa kayak gitu, karena menurut gw setelah lulus kuliah, ya kita akan fokus sama adult life yang monoton, konstan, dan identik dengan ” itu itu saja “. Tetapi ternyata tidak. Ini adalah beberapa point pelajaran yang menurut gw penting banget dijadikan mind set, especially for fresh graduate like me.

” Duh umur udah segini, terlambat gak sih kalo gw baru mulai “

Gw sendiri baru lulus S1 pas umur 23.5 tahun. Sedangkan temen temen seangkatan gw di indo, rata rata udah pada kerja sekitar 1 – 2 tahun. Ada juga yang bahkan udah selesai S2. Ada juga yang sudah berkeluarga dan  punya dua anak . Ada juga yang udah punya 2 cafe shop.

Sedangkan gw, baru lulus S1. Gw baru mulai mencari kerja. Gw baru mau mencari informasi mengenai S2. Gw baru memulai hubungan dan pacaran sama dia. Gw baru… duh kalo di lanjutin terus, list nya enggak akan selesai deh.

Awal awal, gw terus berfikir apakah, gw udah telat ya untuk memulai sesuatu. Apa udah ketuaan yaa buat kerjain berbagai macam hal baru. Tetapi balik lagi, emang apa sih patokannya ? emang ada ya aturan untuk selesai S2 di umur 24 tahun ? emang ada ya kewajiban untuk punya anak di umur yang masih muda ? Sampai pada akhirnya, gw catching up sama banyak temen temen lama dan dari situ pemikiran gw mulai terbuka. Yang awalnya gw kira mereka udah ” on time “, ternyata mereka sering merasa sedih sama kehidudapnya. Ada juga yang sering ngerasa menyesal, kenapa kecepatan ngerjain ini itu. Don’t get me wrong, banyak juga yang bahagia dan seneng dengan kehidupan mereka saat ini.

Trust me, i know how hard it is to not comparing your life with others. Especially with your ” successful friend”. Rasa iri pasti ada. Tteapi menurut gw, yang paling penting adalah gimana caranya kita gak “obsessed” dengan konsep sukses yang mainstream.  Karena dari mereka gw belajar, it’s okay to really take your time. Klise banget sih, tapi this is an important mind set yang harus selalu kita tekankan di kehidupan kita.

” Don’t worry, It’s your first job “

Gw inget banget, gimana stressnya udah sebulan lebih gw di indonesia nyari nyari kerja, tapi gak dapet dapet. dateng ke banyak interview, cuman gak ada yang lolos. Tes di mana mana , dari mulai company kecil sampe yang udah gede banget, tetep gak lolos lolos. Apalagi temen temen angkatan, udah pada mulai dapet kerja. Pressure nya itu loh, makin besar. Sampai akhirnya, dapet kerja.

Your first job ever.

Gw kira, setelah dapet kerja, gw gak akan ngerasain stress lagi. Tapi ternyata gw salah. Yang namanya di dunia kerja, ya pasti ada aja kejadian yang buat lo bingung, lost, ngerasa bersalah, hingga stress. Dan, setelah gw sharing sama temen temen gw, ternyata itu hal yang wajar. Yaa namanya juga, lo kerja di company, bertemu dan kenal dengan berbagai macam orang baru yang berasal dari background background yang berbeda. Ada masalah adalah hal yang wajar. Jujur aja, gw sendiri banyak ngelakuin kesalahan.  Even di hari pertama gw masuk kerja, gw udah ngelakuin kesalahan. Balik lagi, it’s just your fist job, di mana lo masih banyak belajar serta adaptasi.

” Quality over Quantity ” 

Di tahun pertama gw balik ke Indonesia for good, gw bener bener berusaha untuk catching up sama semua temen temen gw. Pemikiran gw adalah, gw harus nebus dosa kareana gw udah jauh dari mereka. Awalnya, hampir setiap minggu gw keluar untuk ketemu temen. Sampai sempet dalam sehari gw bisa ke tiga tempat untuk ketemu dua tiga group pertemanan yang berbeda. Lama lama gw exhausted, sampai akhirnya sempat tepar dan sakit, saking maksainnya untuk ketemu orang.

Minggu lalu gw juga sempet ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan temen gw, Citra. selama gw dua hari di Surabaya, gw gak pernah sekali pun mesen taxi atau gojek. Temen temen gw lah yang berbaik hati menawarkan untuk jemput atau nganter gw,. Bahkan ada temen gw yang kita udh gak ketemu 5- 6 tahun, tapi masih mau meluangkan waktunya untuk catching up sama gw.

Pada akhirnya gw sadar, sebenernya yang gw butuhin dan yang temen temen gw butuhin adalah quality time nya. Effort yang kita berikan untuk satu sama lain. Frekuensi ketemu bukanlah faktor utama dalam sebuah pertemanan. Walaupun kita jarang ketemu, we know that we’ll always have each other’s back.

Sekian cerita gw kali ini. till next time!

Featured

Salah Jurusan

Duh kenapa sih nulis  di sini lebih menarik daripada ngelanjutin skripsi ? Anyway, gw mau lanjutin post yang kemarin nih.

Untuk daftar universitas di China, ada 3 faktor yang selalu gw lihat dari Univeristas yang akan gw apply. Yang pertama, kampus tersebut harus punya jurusan komunikasi / Journalism yang berbahasa inggris. Kedua, terletak di Kota besar. Bukan berarti harus di Shanghai, Beijing atau Guangzhou. Kalau misalnya kota tersebut adalah ibu kota provinsi dan pas di google, kotanya punya toko toko seperti starbucks, H&M, Uniqlo, dan Mcd,  itu berarti kota ini cukup besar untuk gw. Ketiga, ada PPIT cabang di kota tersebut. Ini penting banget, karena mereka akan menjadi keluarga lo selama kuliah di sini. At least di kota tersebut harus ada orang Indonesianya deh. Di China sendiri, jarang banget ada Universitas yang memenuhi keingian gw. Kalau pun sudah memiliki 3 faktor tersebut, pasti ada aja kekuranganya. Dari sistem pendaftaranya yang ribet, Online application nya yang sering bermasalah, hingga pertanyaan melalui email atau telfon yang tak kunjung mereka respond. Setelah proses yang panjang, akhirnya gw keterima di dua universitas, yaitu Beijing Foreign Studies University ( BFSU ) yang terletak di Kota Beijing dan Wuhan University di Kota Wuhan.

Kenapa gw gak ambil BFSU ? Pertama, karena gw gak terlalu suka dengan kota Beijing. Don’t get me wrong, Beijing seru banget. Tapi untuk gw, cukup untuk liburan aja deh. Di satu sisi, gw gak pernah ke Wuhan sebelumnya. Jadi sebenernya alesan ini kurang valid ya. Kedua, Ranking Wuhan University yang lebih tinggi dari BFSU. Ranking Wuhan University yang masuk 10 besar di Tiongkok membuat bokap gw senang sekali. Ketiga, biaya hidup di Wuhan lebih murah daripada di Beijing. Alesan alesan inilah yang membuat gw memilih Wuhan University untuk kuliah mengambil jurusan communication and Journalism.

Semuanya baik baik saja. Dari mulai gw ke Wuhan di temenin nyokap, kenalan sama anak anak indonesia di kampus, registrasi ke fakultas, ngurusin resident permit dan medical check up, dan aktivitas lainya yang harus gw laluin sebagai mahasiswa baru. One day, gw terbangun karena ada yang nelfon gw. Ternyata yang nelfon gw adalah orang dari fakultas gw. Momen ini yang paling bikin gw shock. Basically dia bilang kalau jurusan gw di tutup

iya, jurusan gw di tutup dan ditiadakan.

Ini dikarenakan, jumlah mahasiswa yang mendaftar dan registrasi ulang tidak memenuhi kuota mereka untuk bisa membuka kelas untuk jurusan tersebut dalam bahasa inggris. Iya, ternyata gw adalah angkatan pertama di program ini. Setelah itu, gw harus ke international student office, untuk membicarakan hal ini lebih lanjut. Setelah gw ketemu sama salah satu staff di office, gw di kasih dua pilihan :

  1. Gw keluar dan pindah ke Universitas lain
  2. Pindah jurusan

Gw inget banget, gw langsung nelfon bokap dan ngerasa lost banget. Mana pernah gw kepikiran akan gak jadi kuliah gara gara jurusan yang gw mau ditutup. Kalau alesan gak diterima atau ditolak karena gw gak layak masuk sih beda cerita. Lah ini.  Setelah itu gw masih berusaha dan mencari tahu tentang permasalahan di fakultas komunikasi. Tau gak sih, gw sampai ngumpulin anak anak yang udah sampe wuhan dan registrasi di fakultas itu dan berusaha ngomong sama staff nya. Walaupun cuman satu orang yang mau nemenin gw ( ternyata yang lainya langsung memilih pindah jurusan). Setelah SKSD sama dia, kita ke fakultas dan mencoba ngomong baik baik. Temen baru gw ini sampe nangis loh di depan staff fakultas. Bayangin, dia jauh jauh dari Zimbabwe ke China, untuk kuliah ngikutin passion nya, dan semua sirna cuman gara gara kekurangan mahasiswa. Udah kaya cerita nya film laskar pelangi guys. Semua usaha kita sia sia, dan in the end of the day, kita harus memilih di antara dua pilihan tersebut.

Here’s the thing, gw gak mungkin pindah ke kampus lain karena semester baru sudah di mulai. Gw harus nunggu satu tahun untuk bisa kuliah dan gw gak mau. Gw udah ngebuang setahun untuk belajar bahasa dan gw gak mau wasting another year. Jadi sekarang tersisa pilihan kedua, pindah jurusan. Let me tell you know this. Jurusan di Wuhan university yang memakai bahasa inggris cuman 4: Kedokteran, Software engineering, Economics and management, dan Communication (bhay). Gak mungkin dong gw mendadak ambil kedokteran atau Software Engineering. Tersisa lah jurusan jurusan di fakultas Economics and Management. Gw udah pasrah banget saat memilih jurusan di sini. Gw ngerasa kalau, apa pun yang gw ambil , yaa ya udah. It doesn’t matter anymore, karena ini udah bukan passion gw lagi.

So yeah, itulah cerita gw kenapa gw bisa menjadi mahasiswa di fakultas Economics and Management di Wuhan University dan sekarang lagi nulis skripsi mengenai Human Resources Management.

Featured

Kok bisa kuliah di China ? – Di Tolak 5 Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia

Saat ini, gw mahasiswi semester akhir yang sedang berjuang untuk segera lulus S1 agar mendapatkan gelar sarjana, gelar pertama. Jurusan yang gw ambil adalah management, lebih spesifik nya ke Human Resources Mangement. Banyak yang kira gw ambil jurusan ini karena emang gw suka. Padahal sih, gw salah jurusan. Ini semua bermula dari gw pindah SMA ke China.

Jadi pas jaman jamanya kelas 3 SMA, Sekolah gw ada program counselling untuk ngebantu kita mempersiapkan segalanya. Dari mulai college application, bikin college essay, CV, hingga SAT. Pokoknya SMA gw ini bener bener serius banget deh dalam mempersiapkan kelulusan kita. Oh iya lupa ngasih tau. SMA gw itu adalah Shanghai Singapore International School, salah satu International School di Shanghai – China dan memiliki kurikulum IB ( International Baccalaureate ). Oke, balik lagi. Di saat itu, gw cuman pingin balik Indonesia dan kuliah di sana. Gw pingin kuliah di Indonesia, karena gw kangen banget sama Indo dan pingin ngerasain kehidupan sebagai mahasiswi di Indonesia. Punya orang tua yang dua dua nya lulusan perguruan tinggi negeri ( nyokap lulusan UI dan bokap lulusan IPB ) memaksa gw untuk juga kuliah di universitas negeri.  Jadi kalau gak keterima di negeri, yaa mending sekalian aja kuliah di luar. Gw tau itu enggak mudah. Bagaimana tidak, selama di Shanghai, gak pernah sekali pun gw sentuh buku soal soal SBMPTN. Apalagi bimbel, gw gak pernah ikut kayak gituan. Waktu gw selama SMA bener bener hanya untuk lulus dari program IB dan mendapat ijazah SMA. Karena kondisi ini, gw harus punya backup plan kalau – kalau gak keterima di Universitas negeri di Indonesia. Jadi plan gw saat itu adalah :

  1. Ikut SBMPTN dan jalur mandiri yang bisa menerima ijazah lulusan luar negeri.
  • SBMPTN :

Universitas Padjadjaran,

Universitas Diponegoro dan,

Universitas Jenderal Soedirman

  • Jalur Mandiri :

Universitas Gadjah Mada – Program Internasional dan

SIMAK Universitas Indonesia.

     2. Ambil program bahasa mandarin selama setahun di China.

Tentu saja dengan persiapan selama dua minggu dengan hanya latihan mengerjakan soal dari buku buku persiapan SBMPTN, membuat gw tidak lolos seleksi untuk jalur SBMPTN dan Jalur mandiri. Basically, gw di tolak 5 universitas negeri di Indonesia. Down ? pastinya.

Untungnya, selain mempersiapkan SBMPTN dan Jalur mandiri, gw juga apply ke beberapa Universitas di China untuk setahun belajar bahasa mandarin, non-degree program. Saat itu gw juga mendapat tawaran full- beasiswa untuk kuliah di China mengambil jurusan apa pun tetapi kelasnya memakai bahasa mandarin. Jadi basically, setelah setahun menjalain program bahasa tersebut, gw harus bisa lulus HSK-5 ( ini semacam toefl untuk bahasa mandarin ) agar bisa mulai kuliah S1.

Akhirnya gw memutuskan ambil kelas bahasa ini di Nanjing Normal University di Kota Nanjing – China. Dengan harapan, gw lulus HSK-5 dan bisa kuliah di sana mengambil jurusan communication – Journalism.  Iya,  keinginan gw dari dulu adalah kuliah ambil jurusan komunikasi.

Anyway, seiring berjalanya waktu, gw ngerasa kesulitan banget dalam belajar bahasa mandarin. I mean, kalau cuman untuk beli makan atau sekedar nanya jalan ke orang lokal sih bisa. Tapi, kalau di suruh baca textbook yang full mandarin, gw nyerah. Gw juga udah nyoba ambil HSK-5 dan gw gak lulus lulus. Ini membuat gw frsutasi dan apalagi gw sudah tidak punya banyak waktu. Akhirnya gw ngeberaniin diri untuk diskusi sama orang tua gw. Gw bilang ke mereka kalau gw mau mencoba apply ke universitas universitas di negara lain. Gw juga tetap pingin apply S1 di China, tapi gw cuman pingin ambil program yang ber- bahasa inggris. Keinginan gw ini agak susah di terima oleh orang tua gw. Selain bokap yang punya ekspektasi tinggi terhadap skill bahasa mandarin gw, biaya yang lebih mahal untuk program ber- bahasa inggris juga menjadi salah satu faktor yang mereka pikirkan.

Gw bersyukur banget punya orang tua yang support apa pun keputusan gw. Jadi mulailah gw apply ke berbagai macam Universitas di beberapa negara. Gw Apply ke kampus di Belanda, UK, Turkey, dan pastinya China. Dari banyaknya pilihan yang ada, entah kenapa akhir akhirnya kembali ke China. Iya, ujung ujungnya gw memang  kuliah di China. Di saat itu gw ngerasa kalau, mungkin memang sudah jalanya untuk gw kuliah di negara yang saat itu merupakan rumah buat gw.

to be continued. 

Featured

Insecure

Dalam setahun, paling gw cuman 2 kali pulang ke Indonesia. Di Indonesia nya sendiri, enggak pernah lebih dari 2 bulan. Jadi gw pasti memanfaatkan waktu yang ada untuk catching up with my old friends dan pastinya keluarga. Selain itu, gw juga berusaha untuk mencoba hal hal baru yang sebelumnya gak ada di Indonesia. Contoh paling simple, pas jaman jamanya kopi susu mendadak hits, gw literally cobain banyak banget brand kopi susu yang ada di Jakarta. Tipikal anak Jakarta, gw juga gak lupa mampir ke mall mall favorit gw. Pokoknya sebisa mungkin gw manfaatin waktu gw di Indonesia yang sebentar itu untuk melakukan semuanya.

Anyway, di tahun 2015 , saat gw belajar bahasa mandarin di kota Nanjing, gw kenalan sama anak Indonesia yang sejak dia SMP sampai lulus SMA , gak pernah sekolah di indonesia. Dia selalu pindah pindah dari satu negara ke negara lain. kebetulan saat itu, dia lagi kelas 3 SMA di salah satu international school di Nanjing. Saat gw ketemu dia, kita langsung klik dan bonding banget. Selain karena background kita yang gak beda jauh, kita juga ngerasain hal yang sama setiap kali pulang ke Indnesia. Yaitu sama sama merasa insecure.

Iya , insecure.

Seperti yang gw bilang di atas, setiap balik Indonesia pasti kita ketemu keluarga, temen lama , hingga kenalan sama orang baru. Kita janjian di cafe, restaurant , atau mall untuk ngobrol ngobrol santai dan you know, catching up. Di momen ini nih rasa insecure gw mulai muncul. pertanyaan pertanyan seperti

” wah, lo keliatan hmm beda ya “

” gendutan ya “

” perasaan lo udah lama deh di China, kok gak lulus lulus sih “

” susah ya cari cowok di China ? betah banget sendiri “

Dan masih banyak lagi pertanyaan pertanyaan yang gw denger setiap kali main bareng.

Sebenernya gak cuman itu yang membuat gw merasa insecure.  Pertanyaan pertanyaan itu gak terlalu mengganggu gw karena gw tau itu adalah basa basi yang memang sudah menjadi bagian dari society kita. Hal lainya adalah bisa di bilang gw merasa ter intimidasi sama penampilan para wanita yang seumuran sama gw. Dari mulai pakaian mereka, gaya mereka, serta make up yang on point. Ya ampun, don’t get me started with their make up. Seriusan, gw selalu bertanya tanya , berapa lama mereka get ready ya sampe keliatan cantik sempurna dan flawless gitu.

Hal terakhir adalah, gw ngerasa kayak di perhatikan atau di liatin saat jalan di Mall atau tempat ramai lainya. Oke, kalian pasti mikirnya ” kepedean lo ah ” atau ” perasaan lo aja kali “. Trust me, gw udah lama banget tinggal di China dan tinggal di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim bukanlah hal yang mudah untuk gw survive. Gw tau kok gimana rasanya di liatin ( yang bener bener di liatin kayak lo manusia dari planet lain wkwkw ), di omongin  ( ini asli sih kocak dan puas banget karena gw ngerti bahasa mereka yang artinya lagi ngomongin gw, dan mereka gak tau kalo gw ngerti LOL ), dan di-kepo-in kalo kita lagi ngobrol pake bahasa Indonesia. Anehnya, gw bener bener cuek dan biasa aja mendapat ” perhatian lebih” dari orang orang sini. Bahkan sekarang gw udah gak pernah sadar kalo lagi di liatin dan malah temen temen gw yang sadar gitu sampe bilang ” gila tuh orang, ngeliatin lo sampe segitunya sha “.

Dan ternyata temen gw yang gw ceritain di atas juga merasakan hal yang sama loh. kita cuek dan gak ambil pusing kalau di negara orang kita mendapat perhatian extra. Tapi kita ngerasa gak nyaman, insecure , dan merasa teintimidasi saat mendapat perhatian, yang bahkan tidak sebesar perhatian yang kita terima di negara orang, di Indonesia.

Kita ngerasa asing, di tempat yang kita sebut ” home “.

kita merasa tidak ” fit into society “

mungkin kalian akan berfikir kalau apa yang gw rasain tuh gak ada apa apanya di bandingin apa yang kalian rasain saat ini. pastinya ada banyak masalah di luar sana yang lebih serius dan lebih penting dari ini.

Awal awal gw pindah ke China dan lalu balik Indonesia untuk liburan adalah masa terberat gw. I mean, enak sih bisa makan martabak dan nasi padang tiap hari, tapi capek cuy ngerasain hal yang sama every single damn time. Di sini gw bukan menyalahkan society loh yaa. Seiring berjalanya waktu, gw semakin terbiasa dengan ritme kehidupan gw kalau lagi di Indonesia. Inscure sih masih gw rasain, tapi gw belajar banyak untuk bisa mengurangi rasa insecure tersebut. Contoh, Se simple ngucapin mantra kayak ” yaudhlah ya, semua orang punya keunikan masing masing  ” atau ” bodo amat dah ” atau ” udah, gak usah di pikiran ” aja tuh udah ngebantu banget. Sharing sama sahabat sahabat terdekat  juga ngebantu banget. Mungkin mereka gak ngerasain apa yang gw rasain, tapi keberadaan mereka bikin kita nyaman sama diri kita sendiri.

Jadi, kalau misalnya nih ada yang ngerasain hal yang sama kayak gw, hang in there and everything it’s gonna be okay kok tenang aja hehehe

Featured

Liburan ala ala Eropa di China ( Tianjin Edition, Part 2 )

滨江道 ( Binjiang Dao ) – Binjiang Avenue / Binjiang Business Street 

     Pedestrian street yang satu ini berbeda dengan guwenhuajie. Kalau Binjiang dao, lebih bergaya modern dan juga menjadi pusat shopping centre terbesar di Tianjin loh. Pedestrian street ini sendiri terdiri dari berbagai macam mall. Sepanjang jalanya, kalian bisa melihat toko toko di sisi kanan dan kirinya. Kalau malam minggu ke sini, Binjiang Dao menjadi sangat pada oleh pengunjung. Gue sendiri ke sini sampe dua kali. Yang pertama di sore hari, saat matahari masih ada. Yang kedua kalinya, saat malam hari. Meneurut gue, ke sini pas malem aja guys. Pas malem, semua lampu gedung gedung nyala ( kayak new york’s times square gtu ) dan lebih dapet feels nya. Yang pasti, jauh lebih keren buat foto foto pas malem hari.

天津之眼( Tianjin Zhiyan )- Tianjin Eye

     Belum ke Tianjin kalau belum ke Tianjin Eye. Tianjin eye adalah ferris wheel dan menjadi icon kota Tianjin. Kalian bisa melihat pemandangan kota Tianjing dari atas sini. Cobain deh ke sini pas malam hari. Sumpah keren banget, apalagi Tianjin Eye ini tuh berada di atas sungai Han jadi kalian jadi bisa jalan jalan di pinggir sungai ini. Gue ke sini pas musim dingin, jadi air sungainya pas beku gitu dan menurut gue, yang bukan berasal dari negara 4 musim, itu keren banget.

天津水上公园 ( Tianjin Shuishang Gongyuan ) – Tianjin Water Park / Shuishang Park

     Gue paling suka jalan jalan ke taman. Apalagi taman taman di China tuh gede gede dan enak banget buat jalan jalan. Pas sampai sini, gue doing yang excited. Padahal pas itu dingin banget dan lagi foggy karena polusi ( as you know, polusi di China bukan hal baru lagi ). Di sini, kalian bisa lihat gimana budaya China yang sesungguhnya. Gimana masyarakat China ( khususnya lansia ) mengisi waktu luang mereka dengan kegiatan kegiatan yang unik. Dari mulai nari, main mahjong, hingga kumpul kumpul dengan teman temanya. Taman ini juga menyuguhkan pemandangan yang gak kalah indahnya loh. So, worth to visit banget deh.

天津广播电视塔( Tianjin guangbo dianshita ) – Tianjin radio and television tower

     Tianjin tower ini terletak tidak jauh dari Shuishang park. Sejujurnya sih, gue cuman foto dari depan towernya. Kita enggak sempet masuk ke dalam dan naik sampai atasnya. Cuman kalau kalian tipe orang yang suka meliahat pemandangan kota, wajib ke sini deh.

Italian Style Street

     Gue bisa bilang ini tempat favorit gue selama gue di Tianjin. Memang sih tempatnya kecil, tapi daerah sekitarnya yang buat gue ngerasa  kayak bukan lagi di China. Bangunan bangunan di daerah sini bergaya ala Eropa, lebih spesifiknya Italia. Ternyata bangunan bangunan ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, di karenakan dulu sempat di jajah oleh Italia.

Anyway, gue anjurin kalian ke sini dari sore, karena banyak spot bagus buat foto foto. Enggak cuman di Italian style streetya sendiri, tapi di sekitarnya juga loh. Kalau bosen, bisa ngafe ngafe atau makan juga kok.

五大道 ( Wudadao ) – The Five Avenues / Five Great Avenues

     Enggak beda jauh dari Italian Style Street, bangunan di wudadao juga bergaya eropa. Di sini ada sekitar 230 bangunan yang memiliki arsitektur yang berasal dari Inggris, Perancis, Italia, Jerman, dan Spanyol. Wudadao terdiri dari dua bagian. Yang pertama, tempat wisatanya itu sendiri dan gedung gedungnya berwarna warni. Yang kedua adalah perumahan tempat tinggal yang tersebar di seluruh area. Katanya, ada sekitar 50 rumah yang di tempatin oleh artis artis loh. Wudadao juga termasuk ikon kota Tianjin. Jadi, jangan lupa mampir ke sini yaa.

Itu dia cerita singkat gue soal liburan gue ke Tianjin. Semoga bermanfaat!

 

Featured

Liburan ala ala Eropa di China ( Tianjin Edition, Part 1 )

          Di akhir tahun 2017 kemarin, gue sama teman – teman kampus gue liburan ke kota Tianjin, salah satu kota metropolitan di China. Berawal dari jadwal kuliah gue yang lumayan kosong (literally gue kuliah cuman dari senin sampe rabu, sisanya nganggur) dan temen temen gue yang pingin kabur dari kesibukan kuliah, akhirnnya kita memutuskan pergi dari kamis sampe minggu.

Sedikit tentang Tianjin,

      Tianjin tuh deket banget sama Beijing. Kalau dari Beijing naik high speed train, paling cuman setengah jam sudah sampe di Tianjin. Kalau naik pesawat dari Wuhan, kira kira 2 jam kurang sudah sampai. Terus kalau kata Wikipedia, Tianjin tuh di urutan nomor 4 loh kalau di lihat dari urban population-nya. Kalau soal cuaca, winter di sana lebih dingin dari kota Wuhan. Mungkin karena letaknya di atas ya. Tianjin tuh kalo pas turun salju, bener bener lebat banget dan sampe berhari – hari. Berbanding terbalik deh dari Wuhan.

Anyway,

            Di post kali ini, gue akan ceritain gimana jalan jalan gue selama di Tianin. Dari mulai tempat kita tinggal sampe snack yang harus di cobain. So, check it out!

Tempat menginap

            Gue main di Tianjin ini bareng adik gue dan 3 orang temen kampus kita. Nah, karena gue cewek sendiri dan kalau nginep di hotel tuh jadi ribet plus mahal, kita memilih nginep di apartment yang di sewakan lewat Airbnb.com. Saran dari gue sih, kalau kalian rame rame gitu pas liburan di China, mending cari di Airbnb aja. Terutama kalau liburan ke kota kota gede kayak Tianjin ini. Banyak host yang bisa pake Bahasa inggirs loh, malah ada yang bisa nego harga. Ini pertama kalinya gue nginep di apartment orang gitu dan gue suka banget. Demi apa pun, apartment ini tuh baru gitu dan kita orang pertama yang nginep di sana. Jadi masih serba baru dan yang nyewain tuh artsy banget jadi design apartment nya instagramble banget, dan yang terpenting kenyataanya sesuai dengan apa yang mereka upload di Airbnb. Recommended banget!

Tempat tempat wisata

古文化街 ( Guwenhuajie ) – Tianjin’s Ancient Culture Street

            Ini tempat wisata pertama yang gue kunjungin pas di Tianjin. Basically, sesuai dengan namanya, ini tuh pedestrian street yang khas China banget. Kalo kalian udah pernah jalan jalan ke China, hampir semua kota pasti punya pedestrian street yang serupa dengan ini. Di sini, kita bisa nemuin banyak banget toko yang menjual berbagai macam souvenir dan pernah pernih khas China. Dari mulai aksesoris hingga snack khas Tianjing. Oh iya, pas ke sana, gue nyobain snack Tianjin gitu. Katanya, snack manis ini pas buat sarapan. Btw, ini halal loh. Jadi, bagi kalian yang main ke Tianjin, wajib banget ke Guwenhuajie deh.

清真大寺 ( QingZhen Dasi ) – Tianjin Great Mosque

Saat itu adalah hari jumat . Which is, adek gue harus Sholat jumat. Setelah nanya anak anak indo di Tianjin dan browsing juga, akhirnya kita nemuin Mesjid ini. Ternyata, gak jauh jauh banget dari Guwenhuajie dan di tengah kota loh ( jarang banget ada masjid di China yang di tengah kota kayak gini ). Tianjin Great Mosque juga termasuk salah satu tempat wisata loh. Typical masjid masjid di China, bangunan masjid ini masih tradisional banget dan infrastructure nya juga masih ada unsur budaya China. Buat yang non-muslim dan penasaran sama gimana sih masjid di China, gue anjurin buat dateng dan check it out. Temen temen gue aja bilang kalo Mesjid nya keren dan unik.

西開堂( Xikai Tang ) – St. Joseph Cathedral / Xikai Church

Pas kita lagi jalan, gak sengaja banget ketemu gereja ini. Terus, karena temen temen gue banyak yang Kristen, akhirnya kita iseng ke sana buat liat liat. Ternyata, ini juga salah satu gereja yang terkenal di Tianjin. Seumur hidup gue, ini pertama kalinya gue masuk ke gereja. Guys, bener bener masuk ke dalem gereja loh. Karena gue gak ada perbandingin gimana gereja gereja lain, Xikai Chruch ini indah banget. Letak Xikai Church juga sangat strategis dan berada di tengah kota. Jadi gampang banget buat kalian yang pingin ke sini.

To be continued ~ 

 

Featured

Kenapa Enggak Pindah Kewarganegaraan Aja Sha?

            Entah sudah ke berapa kalinnya gue dapet pertanyaan kayak gini. Setiap gue cerita soal kehidupan gue di China, tidak sedikit teman gue yang berasumsi kalau gue tuh cinta mati banget sama China dan enggak mau balik lagi ke Indonesia. Well, gue akuin, gue sudah nyaman banget tinggal di China. China tuh sudah jadi rumah deh buat gue. Tetapi, bukan berarti gue lupa akan tanah air. Bukan berarti nasionalisme gue hilang gitu aja.

            Jujur ya, justru gue ngerasa kalau semenjak gue pindah ke China, hampir 6 tahun yang lalu, gue enggak pernah sebangga ini jadi orang Indonesia. Gue enggak pernah se effort ini untuk memperkenalkan Indonesia di mata dunia. Kalau kalian kenal sama pelajar Indonesia yang lagi kuliah di luar negri dan mereka lebih gencar dalam memperkenalkan budaya Indonesia, usaha gue memang belum ada apa – apanya. Usaha gue, setengahnya aja tuh belum ada.

Gue mau cerita yaa

            Gue sekarang Kuliah di Wuhan University, di Kota Wuhan. Setiap tahunnya, pada bulan November, kampus gue tuh selalu ngadain acara gede banget, yang namanya “International Cultural day “. Acara ini selalu berlangsung di hari sabtu dan minggu. Nah, kan banyak banget tuh foreigners yang kuliah di kampus gue, dan mereka berasal dari berbagai macam negara. Dari situ lah, banyak negara berpartisipasi dalam acara ini. Ratusan negara loh yang ikutan. Setiap negara dapet stand, yang stand tersebut bisa kita hias dan kita gunakan untuk memperkenalkan budaya kita. Contoh, jualan makanan, souvenir, dan apa pun deh. Acara lainnya tuh performance di stage. Biasanya sih tarian dan fashion show. Di fashion show, kita harus pake baju tradisional kita gitu deh.

             Kenapa ini Big deal banget ? karena ini adalah acara terbesar di Wuhan dan setiap tahunnya sampe ribuan orang dateng untuk ngeliat stand dan performance. Banyak juga stasiun TV dan media lain yang dateng untuk ngeliput acara ini loh.

            Ini tuh tahun ketiga gue kuliah di sini dan sudah 3 kali lah gue sama temen temen Indonesia lainnya saling bekerja sama biar stand Indonesia tuh menarik banyak pengunjung. Dan guys, itu enggak gampang.

Kalo stand lo adalah negara Inggris atau Amerika Serikat atau Korea selatan atau bahkan Thailand, kalian enggak perlu effort untuk menarik perhatian pengunjung. Cukup dengan berdiri di stand lo aja, tanpa jualan apa pun, stand lo tuh sudah pasti akan penuh sama pengunjung. No offense, Being Indonesian, is kinda hard.

            Nyiapin acara ini sama nyiapin acara nikahannya kakak sepupu lo tuh gak ada bedannya. Stress, sudah pasti. Pusing, jelas. Konflik sama temen sesama negara sendiri, sering. Jumlah mahasiswa Indonesia yang ada di kampus gue tuh 31 orang. Enggak sedikit, tapi juga enggak banyak. Kebayang dong, gimana caranya biar saran dan ide yang berbeda beda, bisa kita satuin untuk mendapatkan hasil yang sama.

Belum lagi kita harus mikirin sumber daya yang terbatas. Guys, believe me, nyari orang yang punya baju adat Jawa atau daerah mana pun deh, itu enggak gampang loh. Kalau di Jakarta kan tinggal ke Pasar mayestik atau blok M ya. Lah di sini.

Belum lagi, kalau mau bikin makanan khas Indonesia. Gimana carannya dapetin rempah rempah atau bumbu bumbu yang kalo di Indonesia, tinggal beli di tukang sayur yang lewat setiap pagi di depan rumah lo?  Indomie yang buat di makan sendiri aja tuh, kita sayang sayang banget. Gimana nasib perasaaan kalian, kalo sudah bawa bumbu bumbu Indonesia gitu, berat berat, sampe koper lo overweight kena charge, eh sampe di China, di suruh nge ikhlasin bumbunnya biar bisa di pake masak dan akhirnnya makanan nya di jual di stand Indonesia. Kebayang enggak sakitnnya hati temen temen di sini? Ini baru urusan baju adat sama makanan. Belum lagi kita harus nyiapin penampilan di stand, flashmob dangdut, yang bikin anggotannya harus ngerelain waktu senggangnya untuk latihan nari.  Atau tim dekor, yang sampe muak sama suara lakban, saking seringnya pakai lakban untuk bikin printilan dekorasi stand. Atau tim jualan souvenir, yang harus nge handle 400 pieces barang dari penjual yang berbeda beda dan gimana caranya tetep ter organized saat di jual di stand. Atau para penari, pelajar Indonesia yang sebagian besar bukan mahasiwa Wuhan University, tapi tetep bersedia buat bantu kita dan tampil maksimal di acara utama.

Yang gue gak ngerti, pas hari H, semua keluh kesah yang kita rasain, semua stress, lelah, pusing, capek, mendadak hilang gitu saja. Apalagi pas ngeliat hasilnnya kayak gini

        Kesimpulannya, kita memang jauh dari tanah air. Kita memang jarang pulang ke Indonesia. Kita memang, paling setahun dua kali, makan di resto Padang, dan makannya pake tangan . Tapi ini bukan berarti, kita enggak cinta Indonesia. Kita hanya memilih cara yang berbeda untuk mencintai Indonesia.

Semoga blog post pertama gue ini bermanfaat yaa. Happy Sunday semuanya 🙂